PAK ALUY DAN PAK MIGU’

18 Juni 2008 at 3:35 am | In Cutak, Iseng, Jantuh Sangau, cerpen | Leave a Comment

Syahdan binti alkisah, Pak Migu’ kepengen beli motor. Biar hanya motor bekas, yang penting motor. Asal bisa jalan, jadilah fikirnya. Pak Migu’ mampir ke rumah Pak Aluy abang sulungnya.

“Bang, aku punya niatan nih. Kalau nanti si Miguk lulus SMP hendak kubelikan motor seken (second hand)”. Pak Migu membuka percakapan. Pak Aluy terbeliak matanya mendengar penuturan Pak Miguk.
“Eh…, jangan sembarangan beli. Hati-hati. Kalau mau beli motor, HP atau apapun, jangan kau beli yang merk SEKEN. Lebih baik kau beli motor bekas”. Jelas Pak Aluy dengan gamblang.
“Oh…, gitu ya Bang.” kata Pak Migu’ sambil manggut-manggut.

Si Aluy yang hendak membawakan minum untuk keduanya, jadi tertahan sejenak. Sakit perutnya menahan tawa.

“Kenapa kau Luy?, senang hati engkau?, puas kau dah sukses ngerjain Abahmu yang bodoh ini?”. Tanya pak Aluy dengan majah masam.
Aluy tak berani menjawab Abahnya. Beringsut dan terus masuk kembali ke dalam. Belum habis Pak Aluy mengomel, suara tawa Aluy meledak dahsyat.

“Kesal betul nampaknya Abang sama si Aluy, memangnya kenapa, Bang?”. Tanya Pak Migu’ seraya menghirup kopi suguhan Aluy tadi.
“Kemarin, aku minta Aluy untuk mengisikan nomor HPmu ke HPku, eh, taunya, nomor perempuan pula yang diisikannya”. Jawab Pak Aluy. Mukanya nampak merah menahan amarah.
“Perempuan mana Bang, tau Abang namanya? tanya Pak Miguk dengan wajah berbinar.
“Kumat gatal engkau nih rupanya. Namanya Veronica”. Jawab Pak Aluy ketus.
“OOyyy …. Veronica, sedap betul namanya Bang, sudah tentu cantik orangnya ya Bang?” Tanya Pak Miguk lagi dengan berapi-api.
“Bagaimana aku mau bertanya, setiap kali aku telpon omongannya itu-itu juga. Diapun tak perduli saat kutanya apakah nomor yang aku hubungi ini nomormu,Pak Migu”. Jawab Pak Aluy, mukanya nampak makin merah saja. Tapi Pak Miguk sama sekali tak menyadarinya.
“Yang diomongkannya tuh apa, Bang?. Hati-hati Bang, kalau sampai Mak Aluy tau…”. Kata Pak Miguk cekikikan.
“Anda terhubungkan dengan layanan Veronica, silahkan tinggalkan pesan setelah bunyi berikut … tut … diputusnya telpon aku”. Kata Pak aluy seraya memperagakan caranya menelepon.
“Dia bilang layanan, Bang ? layanan apa tuch? jangan-jangan … “. Ujar Pak Miguk sambil menempelkan jari telunjuk ke bibirnya.
“Itulah Pak Miguk yang aku risaukan, dari mana si Aluy tau hal-hal seperti itu. Ohhh … Hay … anak sekarang”. Kata Pak ALuy sembari membetulkan letak kopiahnya yang miring.

“Coba kita telepon lagi bang. AKu mau dengar suaranya”. kata Pak Miguk lalau meraih HP Pak Aluy.
“Suka hati engkau lah, asal jagan kau bilang itu nomorku. Mati aku”. Kata Pak Aluy sambil celingukan melihat ke dalam rumah.
“Nomornya, Bang?. Tanya Pak Miguk penuh semangat.
“Ini nih nomornya. kucatat dalam kopiahku, Kau tau sendirilah perangai ipar kau tu”. Kata Pak Aluy lalu mengambil catatan kecil dari bekas bungkus rokok yang ia sembunyikan dalam kopiahnya.

Dengan semangat menggebu, Pak Miguk menekan key pad hp Pak Aluy lantas menekan tombol callnya. Tiba-tiba HP Pak Miguk berdering bersamaan dengan tersambungnya hubungan dengan nomor yang ia tekan tadi.

“Lho, Pak Aluy. Ini namamu yang muncul di HPku?”. tanya Pak Miguk keheranan.
“Berarti nomor yang dimasukkan si Aluy kemarin betul nomormu.Eh tapi, siapa perempuan yang mengangat HP itu kemarin, Pak Miguk? Ooooo … jangan-jangan …” Kata Pak Aluy
“Jagan-jangan apa, Bang?” … Tanya Pak Miguk
“Kita ni dah tua Pak Miguk oy …, nunggu nak dikubur. Jangan kau nak buat ulah pulak”. Kata Pak Aluy menggurui.
“Eh …, Abang ini, kita pulak yang disalahkan. Jangan-jangan Abang sendiri”. Kata Pak Miguk membela diri.

Keduanya bedebat kayak debat balon pilkada, hebohh …. Si Aluy yang hendak turun latiha Futsal haya geleng-geleng kepala. Aluy berlari kencang sambilberteriak ..
“Mak … Oooo … Mak, Abah rebutan cewek degan Pak usu tu Mak ….

– S E L E S A I -

Ngetes Read More

13 Juni 2008 at 6:21 am | In Tips dan Trik, cerpen | Leave a Comment

“Aku cuma ingin menunjukkan padamu, sesuatu yang bernama fokus dan sungguh-sungguh,” katanya via telepon ketika aku masih berada di Tanah Jauh. Untuk kesekian kalinya aku tersengat. Entah kenapa, setiap kali berkomunikasi dengannya aku seperti terkana radiasi panas. Pantas saja kawan-kawan menjulukinya Matahari Khatulistiwa.

Ya, aku melihat api yang tak pernah padam di matanya. Dalam lelah sekalipun. Busyet. Bagiku ia tetap ORANG GILA. Orang gila yang anti NATO, No Action talks Only. Aku jadi teringat pertemuan-pertemuan awal kami. Di antaranya adalah pengalaman membuat sejarah bersama Kak Yophie Tiara.Saat itu, kami bertiga berbincang tentang fenomena rendahnya minat baca tulis di Provinsi yang telah kehilangan generasi emasnya dalam Peristiwa Mandor ini. Tiba-tiba ia seperti kesurupan: “Ahaaa…! Kita terbitkan buku!”

Sontak aku dan Kak Jo, sapaan akrab Kak Yophie Tiara, terdiam. Warung kopi tempat kami berbincang seakan disaput atmosfir aneh. Aku dan Kak Jo saling pandang. Kemudian sama-sama tersenyum. Kak Jo menyambut positif. Karena menerbitkan buku adalah salah satu obsesinya. Namun aku, dalam pembicaraan selanjutnya, paling sengit mendebat mereka. Maaf jika ada yang tersinggung, aku idem dito dengan sebagian orang yang mengaku penulis di Provinsi ini, yang begitu fasih mengeluarkan argumen tentang kenapa tidak bisa berbuat (menulis, menerbitkan buku, dlsb) ketimbang berikhtiar untuk mengatasi kejumudan yang ada. (Dalam hal ini, yang tersinggung pasti yang belum berbuat apa-apa. Yang tidak tersinggung, mana karyanya?)

Jadilah kami kemudian menerbitkan buku secara indipenden. Buku bersejarah itu berjudul Nol Derajat (1995). Berisi kumpulan cerpen kami bertiga. Dalam prosesnya, terus terang aku adalah elemen yang nilai kontribusinya paling sedikit. Setelah Launching di Taman Budaya, kami melanjutkan program kunjungan sastra ke sekolah-sekolah. Sambutannya luar biasa. Hanya dalam tiga bulan, seribu eksemplar buku Nol Derajat ludes di dua kota, Pontianak dan Singkawang.

Sayangnya, gerak kami untuk sementara hanya sampai di situ. Persoalannya klasik, yaitu perkara manajemen yang belum profesional. Aku sendiri harus menunaikan kewajiban menyelesaikan kuliah. Kak Jo, sekarang kudengar aktif di bidang PAUD. Hanya lelaki muda berbadan ceking itu yang tetap komit dan konsisten dalam bidang kepenulisan. Ia mendirikan Pijar Publishing. Telah menerbitkan banyak buku. Terakhir adalah buku yang membuat ‘demam’ warga Pontianak, khususnya anak-anak muda, yaitu Pontianak teenager Under Cover. Buku yang mengangkat tema pergaulan bebas di Kota Dua Muara ini, mengundang pro kontra masyarakat. Tentang buku inilah ia menelponku untuk ‘melihat’ apa yang dimaksudnya dengan fokus dan sungguh-sungguh.

Ketika aku hadir lima belas hari di sini, aku tetap melihatnya sebagai MATAHARI.

WANITA PENJAGA API

6 Juni 2008 at 5:21 am | In cerpen | Leave a Comment

“Ceritakan padaku tentang wanita dan cahaya,” pinta Muja, seraya memperbaiki posisi duduk, lebih mendekap padaku. “Kenapa harus wanita dan cahaya?” tanyaku sambil menikmati sejuntai rambut yang menari di pipinya, dipermaikan anginpantai kucegah tangannya yang bergerak hendak menyelipkan kembali rambut itu ke belakang telinga. Terus kugenggam tangannya, erat. “Apa kau tidak menyimpan cerita yang demikian?” ia balik bertanya. Dengan halus ia mencoba melepas genggamanku. Sambil menggeleng pelan, genggamanku semakin kueratkan. … Baiklah, Muja, aku akan bercerita.

Cerita ini kudapatkan pertama kali dari almarhumah nenekku, puluhan tahun silam. Saat itu, usiaku beranjak belasan. Aku dan keenam sepupu yang lain, yang kerap pulang kampung saat libur sekolah, selepas Dzuhur, selalu minta didongengkan oleh Nenek. Di tengah ruang ia akan berbaring. Dan kami cucu-cucunya yang kurang lebih berusia sama. Duduk mengelilinginya. Sambil memijat-mijat lengan dan kakinya, memeriksa dan mencabut uban-uban pendeknya.

Aku ingat benar kata-kata Nenek saat memulai cerita ini. “Suatu saat,” katanya dengan mata menerawang, melewati jendela besar ruang tengah, melampaui batang-batang pohon kelapa tepi sungai, menyeberangi Sungai Kapuas yang mengalir tenang, menusuk jauh ke dalam rimba raya hutan seberang, “jika ada di antara kalian yang bertemu wanita dengan mata bercahaya, seakan ada nyala pelita kecil di dalamnyua,” dengan gemetar ia melanjutkan, “menjauhlah…!” Kami terkesima. … Sore semakin jatuh. Di ufuk barat, semburat tembaga menyepuh parade gundukan awan. Senja yang sungguh menawan. Burung-burung beterbangan mencari jalan pulan, ke bentangan kawat-kawat listrik pusat kota. Lascar kelelawar, berhamburan dari ceruk-ceruk bumi, dalam formasi anaeh, memulai ritual menyongsong datangnya malam. Angin sepoi. Rambut Muja berombak. Dengan latar sunset seperti sekarang, dengan mentari yang tianggal separuh bulat ditelan cakrawala laut nun jauh di sana, rambut Muja yang sesungguhnya gela pekat, seakan menyala. Setiap helai rambutnya yang meri bebas oleh angain, seolah dilapisi cahaya kemilau keemasan.

“Lanjutkan ceritamu.” “Nghh…sampai di mana tadi?” … Rupanya, Muja, di seberang kampungku, pernah menjadi pemukiman, beratus-ratus tahun silam. Aku ingat, pada liburan cawu berikutnya, saat musim durian, kamiberenam dibawa Kakek dan Nenek melewati daerah itu. Tak jauh dari tebing sungai, pada sebuah tempat darat, Kakek mengais lapisan humus yang cukup tebal. Tampaklah kemudian sisa-sisa tonggak yang terbakar. Kata Kakek, itu adalah kayu belian tiang rumah orang zaman dulu. “Mereka leluhur kita,” kata Kakek. Selanjutnya, kami juga ditunjukkan sebuah kawasan tebing bersemak, di mana terdapat banyak batu berjejer rapi. Itu kuburan kuno. Kuburan leluhur.

Anehnya, Muja, malamnya, sebagian dari kami para cucu, termasuk aku, terserang deman panas yang sangat hebat. Tapi dengan hanya dipercikkan air – tantunya sudah dijampi-jampi nenek, karena nenekku tabib kampung, Muja – kami sembuh. Kata nenek, apa yang kami bertiga alami adalah pertanda dari leluhur. …

“Terus?” tanya Muja, mengakhiri sejenak lamunanku setelah bercerita, “apa hubungannya tempat itu dengan wanita yang memiliki mata bercahaya?” Tapi aku cuma nyengir. Lantas menyeruput habis jus sawo kesukaanku. Sebentar aku memandang berkeliling, ke pondok-pondok kafe yang lain. Beberapa di antaranya sudah kosong. Kembali aku menatap Muja.

“Kenapa memandangku seperti itu?” tanya Muja saat kunikmati indah matanya.
“Matamu bagus.” “Mataku rusak. Rabun jauh. Kau tau itu,kan?”
“Aku hanya memeriksa, siapa tahu di matamu ada nyala pelita.”
“Ooo…begitu?! Nih!…Lihat puas-puas,” katanya dengan mata membelalak.
“Hehe…itu, sih, bukan lagi nyala pelita, malah obor yang menyala…”
“Dasar…!” pekiknya kecil seraya menghujaniku dengan cubitan gemas. …

Jadi, Muja, di tempat itulah, dahulu kala, pernah berdiam wanita penjaga api. Mereka, atas mandat seluruh warga kampung, bertugas menjaga tiga buah pelita di dalam sebuah gua di belakang kampung. Mereka dipilih oleh alam. Artinya, anak siapapun dia, jika perempuan dan lahir dalam cuaca hujan badai, maka ia adalah wanita penjaga api. Tentunya kau bertanya, Muja, kenapa harus perempuan? Kenapa harus yang lahir dalam hujan badai? Ada sejarahnya, Muja. Berhubungan erat dengan asal mula berdirinya kampung itu. Sebenarnya, tempat itu bukanlah pilihan kaum leluhurku sebagai tempat bermukim yang baru.

Oh…hampir lupa kuceritakan padamu, Muja. Ketika itu kaum leluhurku meninggalkan pemukiman lama mereka karena bencana alam. Lumrah pada masa itu, orang membuat perkampungan di dalam sungai-sungai kecil. Bukan di tepi sungai besar seperti Kapuas, seperti sekarang. Konon, menurut nenekku, selain untuk keperluan berladang, orang membuat kampung di dalam sungai kecil adalah demi alasan keamanan. Soalnya, pada masa itu, masih kental tradisi mengayau, ritual memenggal kepala untuk menunjukkan kedewasaan, mendapatkan semacam gelar ksatria atau untuk memperolah kesaktian.

Jadi, Muja, suatu ketika, pemukiman lama kaum leluhurku mendapat bencana banjir banding yang ganas. Kemudian, dengan perahu-perahu sederhana, mereka keluar dari sungai kecil itu. Selain meminta pendapat roh-roh gaib, para sesepuh kaum leluhurku dengan cermat memeriksa setiap lokasi baru. Tetapi, selain tidak layak menurut para sepuh, juga belum mendapat perkenan dri roh-roh gaib. Mereka terus mudik, mudik, dan mudik melawan arus Kapuas mencari tempat baru. Dalam pencarian itu, Muja, pada sebuah tempat mereka terpaksa merapat. Karena saat itu, angin, bertiup kuat dan langit dipenuhi mendung hitam pekat yang menandakan akan segera turun hujan lebat.

Setelah menyembunyikan perahu di sebuah anak sungai, mereka naik ke daratan. Dengan cepat mereka membuat dangau-dangau. Kebetulan sekali, ketika mencari kayu-kayu dan dedaun untuk ramuan dangau, mereka menemukan sebuah gua besar. Sehingga sebagian besar rombongan berteduh di situ.

Kemudian, hujan pun turun dengan lebatnya. Angin menderu-deru. Gemuruh guntur bersahtu-sahutan. Petir sabung-menyabung di langit. Daun-daun berguguran. Ranting dan dedahan berpatahan. Kayu-kayu bertumbangan. Dangau-dangau porak poranda. Sehingga kemudian, terpaksa mereka berjejal semuanya ke dalam gua.

Sementara itu, petir yang sabung-menyabung di langit, entah kenapa, lidah apinya senantiasa menuju ke mulut gua. Pada beberapa tempat di sekeliling mulut gua, sambaran petir berhasil meruntuhkan dinding tebing. Konon menurut nenek, karena terancam, sebab bisa saja lidah petir melongsorkan bebatuan di atas mulut gua, yang berarti bisa-bisa mereka terkubur hidup-hidup semuanya, salah seorang sepuh yang memiliki kesaktian tinggi, berkelahi dengan petir itu. Benar-benar berkelahi, Muja, berkelahi! Tepat di atas mulut gua ia berdiri. Menyambut setiap lidah api yang datang. Ada yang berhasil ditangkapnya, kemudian ia lemparkan kembali ke celah-celah awan. Selalu terdengar gemuruh ledakan yang maha dahsyat di langit setiap ia berhasil mengirim balik lidah-lidah api itu, yang selalu pula disambut gegap gempita pekik perang seluruh masyarakatnya yang di dalam gua. Mereka semua harap-harap cemas. Siapakah yang bakal menjadi pemenang? Sesepuh mereka? Ataukah petir itu?

Setelah perkelahian berlangsung seperempat hari, hujan mulai mereda. Angin tak lagi kencang. Hujan tinggal gerimis. Beberapa sepuh menyusul keluar, mencari sepuh yang berkelahi dengan petir tadi. Mereka menemukannya bersandar di dinding batu atas gua. Tubuhnya melepuh luka. Tangan kanannya menggenggam erat-erat lidah api yang masih jilat menjilat menyala. Ia dibopong masuk. Dan lidah api itu kemudian di pindahkan pada tiga buah pelita.

Sementara itu, Muja, ketika perkelahian melawan petir sedang berlangsung dengan serunya, salah seorang anggota rombongan yang hamil tua, diriringi gegap gempita pekik peperangan, melahirkan bayi perempuan. Dialah kemudian, atas bisikanroh-raoh gaib yang diterima para sepuh, ditunjuk sebagai wanita penjaga api pertama.

Demikianlah, Muja. Tempat itu akhirnya dipilih sebagai tempat bermukim baru leluhurku. Dalam beberapa generasi, perkampungan itu maju pesat. Hasil ladang melimpah. Ikan-ikan di sungai pun bisa didapat dengan mudah. Pemua-pemudanya banyak yang berkelana dan berhasil menjadi orang besar di negeri rantau.

Tokoh-tokoh kampung, kerap diundang ke istana kerajaan (sekarang sudah menjadi ibukota kabupaten, Muja) untuk dimintai pendapat mengenai kemajuan negeri. Demikian pula dengan para pemusik dan penyanyi, sering mereka dijemput dengan bidar-bidar nan menawan, untuk menghibur raja dan keluarganya serta tetamu dari lain kerajaan. Semua kemajuan itu, Muja, tak lepas dari peranan wanita-wanita penjaga api. Untuk membakar ladang misalnya – bukan berarti mereka tak mengenal cara membuat api dari batu atau kayu lempung – selalu apinya diambil dari pelita-pelita yang dijaga para wanita itu. Niscaya, hasil panen akan baik. Demikian pula untuk memasak, maka apapun makanannya, saiapa saja yang menyantapnya akan memiliki kewibawaan dan suara yang sangat bagus. Jika ia pria, maka wajahnya akan memancarkan keteguah hati, suaranya lantang serta fasih, sehingga siapa saja akan terdesima menyimak kata demi kata yang diucapkannya. Jika ia perempuan, wajahnya bersinar menawan, gerak tuturknya terpuji mengesankan dan senandungnya akan merdu di pendengaran, sanggup memikat sukma sesiapa saja yang rindu penghiburan.

Tapi nenekku, Muja, tidak tahu dengan persis berapa generasi sebenarnya para wanita penjaga api itu. Tapi yang jelas, jarang melebihi dua orang. Seakan sudah diatur, Muja, jika seorang penjaga api sudah berumur, selalu ada bayi perempuan yang lahir dalam hujan badai, sebagi teman, serta menggantikannya kelak jika ia sudah wafat. …

“Ada baiknya kita pulang sekarang,” kataku setelah manghabiskan gelas kedua jus sawo.
“Tapi ceritamu blum selesai!” protesnya sengit. Ada semacam kebahagiaan aneh menyelinap dalam benakku saat melihat keantusiasan di wajah cantiknya.
“Sudah berapa lama kita pacaran, Muja?”
“Bukankah kita ke sini untuk merayakan tahun ketiga?”
“Dan…kau bukan keturunan wanita penjaga api, kan?”
“Lho…kenapa? Apa selama ini kau pernah melihat mataku bercahaya? Dan kau tahu, kan, keluargaku berasal dari pulau seberang, dari garis keturunan mana aku berhubungan dengan wanita penjaga api itu, lantas, semisal pun iya, aku keturunannya, memangnya kenapa? Nah…nah…di situlah letak belum selesainya ceritamu. Apa yang kemudain terjadi dengan para wanita penjaga api itu? Kenapa pula akhirnya kampung itu ditinggalkan? Dan kenapa pula kalian disuruh menjauh dari wanita dengan mata bercahaya?”

Diberondong pertanyaan-pertanyaan seperti itu, semakin terasa bahwa aku sangat mencintainya. Segera kurengkuh ia dalam pelukan. Sambil membelai rambutnya yang legam dan panjang, aku berbisik:
“Selain untuk merayakan tiga tahun kebersamaan kita, sebenarnya…aku hendak menyampaikan sesuatu kepadamu…”
“Katakanlah…” ujarnya seraya balas membelai punggungku dengan lembur.
“Mau kuselesaikan dulu ceritaku?” …

Untuk menjawab semua pertanyaanmu tadi, Muja, akan kuceritakan apa yang dialami salah seorang sepupuku. Ia adalah salah satu dari kami bertiga yang terserang demam panas setelah mengunjungi kuburan leluhur. Peristiwa itu, kalau aku tak salah ingat, terjadi kira-kira tiga bulan sebelum aku mengenalmu. Saat itu ia hendak menikah dengan seorang penyanyi kelab malam. Tapi ditentang habis-habisan keluargaku. Bukan karena profesinya, Muja, bukan. Tapi karena penyanyi kelab malam itu adalah keturunan wanita penjaga api, aku menyaksikan sendiri, betapa dari dalam dua bola matanya, memancar cahaya dua nyala pelita. Aku dan beberapa keluarga lelaki lain yang masih lajang, kecuali sepupuku yang hendak menikah itu, seketika berkeringat kepanasan. Sakit sekali rasanya, Muja. Sakit. Seakan sekujur tubuh berada di dalam kobar api. Tetapi, Muja, sepupuku itu tak mau mendengar. Malam itu juga, mereka pergi meninggalkan kampung. Setiba di kota, esok paginya mereka berangkat ke kota lain. Namun dalam perjalanan itu, bis yang ditumpanginya masuk jurang dan terbakar. Sopir, kernet dan seluruh penumpang tewas dalam keadaan mengenaskan. Gosong oleh api. Kecuali mayat wanita keturunan penjaga api itu, Muja, tubuh dan pakainnya utuh dalam pelukan sepupuku. Demikianlah, Muja, kenapa kami disuruh menjauh. Dan sebenarnya, Muja, para wanita penjaga api itu tidak memiliki keturunan, karena mereka tidak boleh kawin. Mereka harus suci sampai mati. Kecuali wanita penjag api terakhir, ia menjalin cinta dengan seorang pemuda dan kemudian hamil. Mereka dihukum, diarak telanjang bulat keliling kampung. Setelah itu dibuang ke sungai. Sebelum dicemplungkan ke sungai, wanita penjaga api itu sempat mengucapkan serapah. Katanya, bukan kehendaknya ia lahir dalam huja badai, bukan keinginannya menjadi wanita penjaga api. Ia hanya ingin menjadi wanita biasa. Tapi warga kampung sudah bulat, mereka harus dihukum. Ia kemudian berjanji, jika ia mati dalam hukuman, arwahnya akan membalas dendam, jika ia selamat, keturunanya akan senantiasa membayangi keturunan seluruh warga kampung dalam terror mematikan. Beberapa hari setelah proses hukuman itu, Muja, warga kampung menemukan hanya jenazah si pemuda, tanpa wanita penjaga api. Setelah jenazah itu dikebumikan, malamnya, rumah-rumah penduduk terbakar.

“Ihhh…” terbayang ngeri di wajah Muja. Ia semakin tenggelam. Sambil terus membelai, kuhayati aroma dan hangat tubuhnya. Tubuh kekasihku, calon pendamping hidupku. Aku bersyukur, ia bukan keturunan wanita penjaga api.
“Muja…” bisikku, “maukah kau jadi istriku?” Ia tengadah dan menatapku lekat-lekat.
“Ini sebuah permintaan, Muja, yang bisa kau tolak atau kau terima. Tapi aku sangat berharap, kau menerimanya, Muja.”
“Perkawinan bukan perkara main-main…” ujarnya dengan mata berkaca-kaca.
“Kau bersungguh-sungguh?!” Aku mengangguk mantap.
“Kau mau menerimaku apa adanya?” tanyanya dengan tatapan penuh selidik. Kuhapus air mata yang mengalir di pipinya.
“Meskipun seandainya aku keturunan wanita penjaga api?”
“Aku yakin bukan,” jawabku balas menatapnya lekat-lekat.
“Aku bersedia,” katanya mengangguk manja dan tersenyum bahagia.

Dari bening dua bola matanya yang masih berkaca-kaca, tampak nyala dua pelita…

~SELESAI~

Pontianak, 15 Januari 2004 Cerita ini kudedikasikan buat Yang Terpilih: Fitri Mayasari.

Oleh : Amrin Zuraidi Rawansyah

Blog pada WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.