Syahdan binti alkisah, Pak Migu’ kepengen beli motor. Biar hanya motor bekas, yang penting motor. Asal bisa jalan, jadilah fikirnya. Pak Migu’ mampir ke rumah Pak Aluy abang sulungnya.
“Bang, aku punya niatan nih. Kalau nanti si Miguk lulus SMP hendak kubelikan motor seken (second hand)”. Pak Migu membuka percakapan. Pak Aluy terbeliak matanya mendengar penuturan Pak Miguk.
“Eh…, jangan sembarangan beli. Hati-hati. Kalau mau beli motor, HP atau apapun, jangan kau beli yang merk SEKEN. Lebih baik kau beli motor bekas”. Jelas Pak Aluy dengan gamblang.
“Oh…, gitu ya Bang.” kata Pak Migu’ sambil manggut-manggut.
Si Aluy yang hendak membawakan minum untuk keduanya, jadi tertahan sejenak. Sakit perutnya menahan tawa.
“Kenapa kau Luy?, senang hati engkau?, puas kau dah sukses ngerjain Abahmu yang bodoh ini?”. Tanya pak Aluy dengan majah masam.
Aluy tak berani menjawab Abahnya. Beringsut dan terus masuk kembali ke dalam. Belum habis Pak Aluy mengomel, suara tawa Aluy meledak dahsyat.
“Kesal betul nampaknya Abang sama si Aluy, memangnya kenapa, Bang?”. Tanya Pak Migu’ seraya menghirup kopi suguhan Aluy tadi.
“Kemarin, aku minta Aluy untuk mengisikan nomor HPmu ke HPku, eh, taunya, nomor perempuan pula yang diisikannya”. Jawab Pak Aluy. Mukanya nampak merah menahan amarah.
“Perempuan mana Bang, tau Abang namanya? tanya Pak Miguk dengan wajah berbinar.
“Kumat gatal engkau nih rupanya. Namanya Veronica”. Jawab Pak Aluy ketus.
“OOyyy …. Veronica, sedap betul namanya Bang, sudah tentu cantik orangnya ya Bang?” Tanya Pak Miguk lagi dengan berapi-api.
“Bagaimana aku mau bertanya, setiap kali aku telpon omongannya itu-itu juga. Diapun tak perduli saat kutanya apakah nomor yang aku hubungi ini nomormu,Pak Migu”. Jawab Pak Aluy, mukanya nampak makin merah saja. Tapi Pak Miguk sama sekali tak menyadarinya.
“Yang diomongkannya tuh apa, Bang?. Hati-hati Bang, kalau sampai Mak Aluy tau…”. Kata Pak Miguk cekikikan.
“Anda terhubungkan dengan layanan Veronica, silahkan tinggalkan pesan setelah bunyi berikut … tut … diputusnya telpon aku”. Kata Pak aluy seraya memperagakan caranya menelepon.
“Dia bilang layanan, Bang ? layanan apa tuch? jangan-jangan … “. Ujar Pak Miguk sambil menempelkan jari telunjuk ke bibirnya.
“Itulah Pak Miguk yang aku risaukan, dari mana si Aluy tau hal-hal seperti itu. Ohhh … Hay … anak sekarang”. Kata Pak ALuy sembari membetulkan letak kopiahnya yang miring.
“Coba kita telepon lagi bang. AKu mau dengar suaranya”. kata Pak Miguk lalau meraih HP Pak Aluy.
“Suka hati engkau lah, asal jagan kau bilang itu nomorku. Mati aku”. Kata Pak Aluy sambil celingukan melihat ke dalam rumah.
“Nomornya, Bang?. Tanya Pak Miguk penuh semangat.
“Ini nih nomornya. kucatat dalam kopiahku, Kau tau sendirilah perangai ipar kau tu”. Kata Pak Aluy lalu mengambil catatan kecil dari bekas bungkus rokok yang ia sembunyikan dalam kopiahnya.
Dengan semangat menggebu, Pak Miguk menekan key pad hp Pak Aluy lantas menekan tombol callnya. Tiba-tiba HP Pak Miguk berdering bersamaan dengan tersambungnya hubungan dengan nomor yang ia tekan tadi.
“Lho, Pak Aluy. Ini namamu yang muncul di HPku?”. tanya Pak Miguk keheranan.
“Berarti nomor yang dimasukkan si Aluy kemarin betul nomormu.Eh tapi, siapa perempuan yang mengangat HP itu kemarin, Pak Miguk? Ooooo … jangan-jangan …” Kata Pak Aluy
“Jagan-jangan apa, Bang?” … Tanya Pak Miguk
“Kita ni dah tua Pak Miguk oy …, nunggu nak dikubur. Jangan kau nak buat ulah pulak”. Kata Pak Aluy menggurui.
“Eh …, Abang ini, kita pulak yang disalahkan. Jangan-jangan Abang sendiri”. Kata Pak Miguk membela diri.
Keduanya bedebat kayak debat balon pilkada, hebohh …. Si Aluy yang hendak turun latiha Futsal haya geleng-geleng kepala. Aluy berlari kencang sambilberteriak ..
“Mak … Oooo … Mak, Abah rebutan cewek degan Pak usu tu Mak ….
– S E L E S A I -